Pages

Sabtu, 15 Oktober 2016

Sistem dan Beasiswa

Assalamualaikum ●ᴥ●

Hai semua :) di posting kali ini aku ingin sharing beberapa hal yang aku fikir mengganjal kalau nggak ditulis di blog. Aku seorang mahasiswa di sebuah PTN, sedangkan adikku seorang mahasiswa di PTS. Aku juga tidak menyangka bahwa hampir semua sistem di kampus kami tidak bisa disamakan, alias berbeda.

Aku bersyukur karena selama satu tahun ini aku mendapatkan beasiswa PPA (aku tidak tahu kepanjangannya). Sebagai kakak, aku memberi tahu dan menyuruh adikku untuk mendaftar beasiswa, karena kebetulan dia juga masuk semester 3. Walaupun keluarga tidak memiliki surat keterangan tidak mampu, kami juga bukan keluarga yang berkecukupan. Dia berkata bahwa sistem di kampusnya sangat sulit bagi mahasiswa yang tidak memiliki surat keterangan tidak mampu untuk mendapatkan beasiswa. Aku berusaha meyakinkan adikku bahwa tidak ada salahnya untuk mencoba, apalagi mencoba hal baik.

Akupun bertanya lagi, apakah dia sudah mencoba mendaftar. Adikku bilang sudah, namun gagal. Karena reviewer dari pihak pemberi beasiswa mengatakan bahwa anak dari orang tua yang bekerja sebagai PNS tidak pantas untuk mendapatkan beasiswa. I don’t know why he can says something like that. Memang, orang tuaku adalah guru yang sudah PNS. Namun, jika kalian tahu, bahwa tidak selamanya PNS hidup berkecukupan. Kita tidak bisa melihat kehidupan dari “secarik kertas”. Aku merasa marah, jujur. Karena (banyak) di luar sana, orang tua yang pekerjaannya “tidak tertulis” di atas kertas dan memiliki penghasilan yang besar, anaknya mendapat beasiswa. Memang aku tidak boleh menghakimi bahwa anak yang orang tuanya memiliki penghasilan besar tidak boleh menerima beasiswa, namun sistem dan pola pikir manusia dan institusi yang memandang semua dari “secarik kertas” membuat adikku, mahasiswa, maupun siswa yang tidak berkecukupan secara finansial tidak dapat menerima hak mereka.

Kita tidak bisa berkata bahwa dokter selalu kaya. Walaupun karena sekolah mereka mahal, belum tentu saat bekerja mereka juga berkecukupan. Kita juga tidak bisa memberikan cap bahwa pengusaha memiliki semuanya. Karena setiap usaha mengalami pasang surut. Kita hanya melihat mereka saat berada di atas, saat mereka di bawah kita cuek dan mengabaikan.

Semoga sharing ini bermanfaat. Apabila ada yang bernasib sama (terutama anak dari ortu PNS), you’re not alone :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar