Pages

Minggu, 18 September 2016

Ayah

Walaupun sudah terlewat sebuah hari yang agung, Hari Raya Iedul Adha masih terasa makna yang baru kuketahui, setelah 20 tahun aku hidup di dunia.
Vian, temanku mengingatkan makna itu. Bahwa dibalik hari agung itu, terdapat sebuah pengorbanan diri seorang anak kepada ayah dan Tuhan. Dimana Ismail mematuhi perintah Tuhan melalui mimpi ayahnya, Ibrahim.
Maaf ayah, aku belum menjadi seperti Ismail. Bahkan tak akan mungkin, untuk mengorbankan jiwa dan ragaku untuk Tuhan kita. Aku belum bisa membanggakanmu dengan nilai-nilaiku dan prestasiku.
Namun, apabila suatu ketika aku harus meninggalkan cita-citaku demi kau dan ibu, aku bersedia. Walaupun telah kulalui bertahun-tahun semua kesusahan, ilmu yang telah kudapat. Karena sesungguhnya cita-citaku bukanlah apa yang aku jalani saat ini, tetapi membahagiakan ayah dan ibu.
Dari anak sulungmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar