Pages

Kamis, 07 Juli 2016

Survey ke Bali

Assalamu'alaikum ●ᴥ●

Akhirnya untuk posting pertama, aku menulis pengalamanku ketika pergi ke Bali untuk melakukan survey kegiatan. Happy new blog for myself hehe. Ohya sebelumnya aku ingin mengucapkan, SELAMAT HARI RAYA IEDUL FITRI 1437 HIJRIYAH :)

By the way, awal bulan Juni yang lalu aku dan temen-temenku yang termasuk ke dalam divisi Equine Care (Equine Care adalah sebuah klub yang berisi mahasiswa kedokteran hewan yang memiliki minat terhadap kuda) mengadakan survey ke Bali, yang (konon) disana banyak stable kuda (read: peternakan kuda). Nah, berangkatlah Imas, Mas Reza, dan Dek Anjani ke Bali mengendarai motor. Walaupun hanya bermodalkan Google Maps (thanks Google <3), akhirnya kami bertiga sampai di tempat yang dituju. Cukup kaget juga, karena stable yang kami kunjungi diluar perkiraan...

Tapi dengan pemilik yang terbuka, kami kemudian tersentuh dan mengiyakan untuk mengadakan proker divisi di stable tersebut. Ditambah 1 stable dengan nama "Kuda P" yang kebanyakan menerima kuda delman yang sakit, kuda rescue, atau kuda yang sudah tidak dirawat oleh pemiliknya. I guess that stable more 'animal welfare' than zoo <3.

 
Gambar Kiri: Kuda yang menderita luka bakar. Kasihan, namun kesembuhan lukanya semakin baik
Gambar Kanan: Kuda yang telah dimandikan siap untuk training

Lokasi paddock atau tempat penggembalaan kuda.

Kurang lengkap rasanya pergi ke Pulau Dewata tanpa mengunjungi pantainya. Kami pun menuju ke Tanah Lot  setelah survey selesai. Tiket masuk untuk wisatawan domestik Rp 10.000, sedangkan untuk wisatawan asing lebih mahal. Saat itu kondisi pantai sangat ramai, terutama wisatawan asing. Kalau aku perhatikan kebanyakan wisatawan asing berasal dari India dan Asia Timur (seperti Jepang, Korea, dan Cina).

 







Malamnya kami menginap di Bed Bunker Ubud Bali. Biaya semalam per orang Rp 50.000. Mengapa lebih murah? Karena kami memesan lewat website. Fasilitasnya kamar tidur untuk 1 orang (jadi sistem kamarnya seperti hotel kapsul)  dan kamar mandi shower dengan air dingin dan hangat.

Besoknya kami sarapan di McD kemudian melanjutkan perjalanan ke Pasar Seni Sukawati. Dengan bermodalkan Googel Maps (lagi) akhirnya sampai dengan waktu 1,5 - 2 jam. It was first time for me dan kita mengantar Anjani untuk membeli lukisan titipan papahnya. Di Pasar Seni Sukawati banyak sekali lukisan berharga murah (karena bisa ditawar), tentunya dengan kualitas yang tidak murahan. Selain itu juga banyak dijual aksesoris, kerajinan tangan, kain bali, dan lainnya. Aku hanya beli tanktop owl karena sedang berhemat :"(. Setelah itu kami lanjut ke kota untuk mencari makan siang. Tempat tujuan kami adalah Ayam Betutu Gilimanuk yang terkenal enak dan halal. Satu porsi ingkung ayam betutu (ayam utuh) dan sayur serta sambal matah, nasi, dan es teh untuk 3 orang harganya kurang dari Rp 200.000 (sangat murah dan enaak :").


Saat hari menjelang sore, kami kembali  ke Banyuwangi. Tenang saja, walaupun naik motor dan cukup melelahkan, kita disuguhi pemandangan laut yang luar biasa indahnya, serta pemandangan Taman Nasional Bali Barat. Nah lucunya, saat kita melewati Taman Nasional, banyak monyet yang sedang "kawin". Hal tersebut merupakan hiburan tersendiri bagi kami yang kelelahan wkwkwk.

Tentu saja ada beberapa tips bagi kalian yang memiliki rencana atau akan holiday ke Bali:
1. Pastikan bugdet yang dibawa cukup. Karena setiap kota memiliki nilai uang yang berbeda. Satu porsi nasi padang pakai rendang di Banyuwangi Rp 15.000, saat di Bali harganya Rp 25.000. Lebih mahal tentu saja :(
2. Bagi kalian yang beragama Islam, harus hati-hati saat membeli makanan. Tentu kalian tahu sendiri bagaimana wisata kuliner di bali yang mayoritas mengandung babi. Pastikan makanan yang kalian halal dan aman. Sedikit saran, apabila ragu lebih baik beli fast food seperti McD, KFC, dll. Atau... mencari tempat makan yang sudah terkenal halal (seperti ayam betutu diatas).
3. Jangan (terlalu) percaya  dengan GPS. Lebih baik melihat petunjuk yang ada di tepi jalan, karena pengalaman kemarin kami lewat jalur tercepat (walaupun posisinya bukan di kota..), ternyata hanya jalan setapak dari tanah yang muat untuk satu motor saja (walaupun akhirnya sampai di tempat tujuan). Ada juga pengalaman lewat suatu jalur, ternyata sampainya di pintu gerbang rumah orang alias buntu. Padahal kalau di GPS tembus, setelah diintip ternyata rumah :( Tidak hanya di Bali, tetapi juga berlaku di kota lain apabila kalian travelling...

Hope I can visit Bali again (with more budget). See you soon!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar